Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts
Thursday, 22 May 2014

Biografi Habib Ahmad bin Abdullah Assegaf

Novel roman yang aslinya diterbitkan tahun 1929 dan diterbitkan di Solo (bagian satu) dan Jakarta (bagian dua) ini mengajak kita pada romantisme sastra klasik. Aslinya ditulis dalam bahasa Arab Melayu, dan kini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, memang benar-benar romantis. Alkisah Abdullah, seorang pemuda keturunan Arab dan tinggal di sebuah desa di kota Garut, jatuh cinta dengan Neng, seorang gadis asal Garut yang fasih berbahasa Arab dan Sunda. Berbagai lika-liku dijalani keduanya, termasuk beberapa problematika keluarga dan sosial, dan pada akhirnya happy ending.

Buat mereka yang tidak terbiasa dengan gaya bahasa klasik, mungkin butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan gaya bahasa yang berputar-putar, penuh keindahan, kata-kata simbol, dan sebagainya. Tak pelak lagi Abdullah Assegaf memang seorang pencerita romantis. Bukannya tidak mungkin tokoh Abdullah adalah personifikasi sang penulis, dan bukannya tidak mungkin kisahnya berdasarkan pengalaman pribadi penulis.

Sayid Ahmad Abdullah Assegaf adalah seorang pemuda keturunan Yaman yang merantau dan akhirnya menetap di Indonesia. Gadis Garut (sayang judulnya terdengar cheesy) adalah salah satu karya sastranya. Kelak beliau melanjutkan perjalanan, dan meninggalkan keluarganya di pulau Jawa, dan meninggal di perairan Laut Jawa 15 Maret 1950.

Novel Fatat Garut ditulis oleh S. Ahmad Abdullah Assegaf, keturunan Arab kelahiran Yaman tahun 1882. la pernah lama tinggal di beberapa daerah di Indonesia dan Singapura. Ia juga sempat tinggal beberapa lama di Garut, tepatnya di Rancabango dan Rancanasar. Kemungkinan besar latar belakang kehidupannya di Garut itulah yang mendorongnya menulis Fatat Garut. Fatat Garut awalnya terdiri dari 2 juz. Juz pertama diterbitkan di Solo dan juz kedua diterbitkan di Jakarta. Keduanya terbit pada tahun 1929. Pada tahun 1997, novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali bin Yahya dan diterbitkan oleh penerbit Lentera Jakarta dengan judul Gadis Garut, Roman Kehidupan Multi etnik Indonesia Awal Abad XX.

Fatat Garut mengisahkan hubungan percintaan tokoh Abdullah (pria Arab) dengan Neng (keturunan Sunda Arab) dengan berbagai konflik dan romantikanya. Namun dari berbagai argumen yang disampaikan tokoh-tokohnya tersirat dengan jelas bahwa melalui novelnya ini penulis ingin "melawan" pandangan kaum orientalis Barat yang merendahkan Islam dan Arab.

Walaupun setting dan beberapa tokohnya berasal dari Garut, novel ini sangat berbau Arab dan menggambarkan lingkungan yang multi etnik. Misalnya beberapa tokoh novel ini berasal dan berlatar budaya dari berbagai bangsa seperti Sitrun (India), Syarifah (peranakan Sunda-Arab), d Mould (Amerika), van Ridjik (Belanda), Abdul Kadir (Arab), dan L Mukhti (Sunda). Melihat deskripsi ini, kemungkinan Garut pada masa itu menjadi tempat tinggal orang-orang dari berbagai bangsa.

Yang menarik, novel ini mengandung, deskripsi tentang keadaan Garut pada awal abad ke-20. Ada satu bab yang khusus menceritakan Garut di bagian awal novel ini. Dari deskripsi itu, terlihat jelas bahwa Abdullah Assegaf yang juga seorang wartawan, tabu betel situasi Garut saat itu. Misalnya dilukiskan bahwa, "Seandainya pulau Jawa yang dianugrahi Allah tanah yang subur dan pemandangan yang indah kita umpamakan seikat cincin jamrud, maka Garut adalah pusat dari cincin itu yang merupakan permata yang tiada bandingnya."

Pada bagian lain Assegaf mengisahkan, "Garut bukanlah daerah perdagangan, melainkan daerah yang banyak tempat rekreasinya. Karena itu banyak didirikan tempat-tempat penginapan yang besar dan dan rumah-rumah makan yang teratur rapi yang menyediakan semua yang dapat menyenangkan para wisatawan dan meme¬nuhi cita rasa mereka. Kebanyakan orang-orang Eropa yang mene¬tap di Garut adalah para wisatawan dan orang-orang yang ingin menikmati udaranya yang sejuk." Sementara di bagian akhir bab tentang Garut ini, ia menulis, "Anda berada di suatu alam di mana teman Anda adalah pemandangan yang indah dan kawan bicara Anda adalah alam yang nyata."

Penulis Sejarah dan Sasterawan Hebat
Salah satu pakar nasab di Indonesia yang meletakkan dasar-dasar ilmu nasab adalah Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaf. Selain dikenal sebagai pakar ilmu nasab yang jempolan, ia juga dikenal wartawan, sastrawan dan guru bagi banyak orang.

Habib Ahmad dikenal sebagai wartawan, sejarawan, dan sastrawan keturunan Arab yang terkenal pada masa kemerdekaaan RI. Sayid Ahmad bin Abdullah Assegaf, banyak menyerang pemerintah kolonial Belanda lewat tulisan-tulisannya. Untuk melengkapi data tulisannya itu, dia mendatangi berbagai tempat di Indonesia untuk bertemu dengan tokoh masyarakat, ulama, dan sejarawan.

Ia juga adalah salah satu pendiri pergerakan Arrabithah Al-Alawiyyah dan sekaligus menerbitkan majalah Arrabithah Al-Alawiyyah, majalah yang mengupas bidang keagamaan dan politik. Majalah Arrabithah Al-Alawiyyah dalam waktu yang tidak lama menjadi wadah bagi para penulis muda untuk menyampaikan pendapat mengenai keislaman dan politik, berperan sebagai sarana untuk menampik pengaruh orientalis barat di Indonesia.

Habib Ahmad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff sendiri lahir pada tahun 1299 H (1879 M) di kota Syihr, Hadramaut. Ketika umurnya menginjak usia 4 tahun, ia dibawa oleh kedua orang tuanya ke kota Seiwun, saat itu terkenal sebagai kota ilmu yang menghasilkan banyak ulama besar dan shalihin. Di kota itu, ia mempelajari ilmu ushuludin, fiqh, tata bahasa, sastra dan tasawuf.

Tak puas menyerap ilmu di Seiwun, lantas ia pergi ke Tarim yang saat itu juga dikenal sebagai pusat para ulama besar. Hampair setiap hari, ia mendatangi majlis-majlis ilmu dan mengadakan hubungan yang akrab dengan guru-guru yang shalih, seperti Sayid Abdurahman bin Muhammad al-Masyhur, Syaikh Saleh, Syaikh Salim Bawazier, Syaikh Said bin Saad bin Nabhan, Sayyid Ubaidillah bin Muhsin Assegaff, Habib Ahmad bin Hasan Alattas, Habib Muhammad bin Salim As-Siri dan lain-lain.

Ustadz Ahmad Assegaff dikenal sangat gemar mengadakan perjalanan ke berbagai negeri tetangga untuk menemui ulama-ulama dan mengadakan dialog dengan para cendekiawan, sehingga ia sangat dikagumi oleh pusat-pusat ilmiah pada masa itu.

Tahun 1333 H (1913 M), ia berlayar ke Singapura dan ke Indonesia untuk mengunjungi saudaranya yang tertua, Sayid Muhammad bin Abdullah bin Muhsin Assegaff di Pulau Bali. Ia tinggal di Pulau Dewata itu beberapa lama, sambil berguru sekaligus berdakwah di sana.

Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Surabaya, berjumpa dengan beberapa perintis pergerakan Islam serta para cendekiawan. Mereka sering terlibat diskusi membahas kebangkitan pergerakan keturunan Arab dan kaum muslimin di masa mendatang.

Habib Ahmad saat itu terpilih menjadi direktur yang pertama dari Madrasah Al-Khairiyah di Surabaya. Ia memimpin sekolah yang kebanyakan diikuti oleh warga keturunan arab itu dengan sangat bijaksana dan mulai saat itu namanya dikenal sebagai orang yang ahli dalam bidang pendidikan. Di kota Surabaya, ia menikah dan mempunyai beberapa orang putra.

Kemudian, ia pindah ke Solo dan tetap bersemangat mencari ilmu pengetahuan. Di kota batik inilah ia mempelajari ilmu psikologi dan manajemen sekolah, kebetulan ia juga menjadi salah pengurus sekolah swasta. Selain mengajar, ia juga berdagang sehingga ia sering pergi ke Jakarta untuk mengurus perniagaannya. Usaha dagang semakin maju. Itu membuat Habib Ahmad pindah ke Jakarta dan menjadi pimpinan sekolah Jami’at Kheir.

Berbagai perubahan demi kemajuan dalam pendidikan mulai ia rintis, di antaranya dengan membuka kelas-kelas baru bagi para pelajar, menyusun tata tertib bagi pelajar, mengarang buku-buku sekolah serta lagu-lagu untuk sekolah.

Buku-buku pelajaran yang ia susun diantaranya terdiri dari buku-buku agama, sastra dan akhlaq. Keberhasilannya dalam memimpin sekolah dan menciptakan sistem pendidikan, mengundang perhatian yang luas dari pemerhati masalah pendidikan baik dalam maupun luar negeri, seperti dari Malaysia dan Kesultanan Gaiti di Mukalla. Intinya, mereka meminta Habib Ahmad untuk memimpin pengajaran sekolah di negeri mereka. Namun, permintaan tersebut ditolak dengan halus, karena ia tengah merintis pembentukan Yayasan Arrabithah Al-Alawiyyah.

Melalui pergerakan Arrabithah Al-Alawiyyah pula, ia mempunyai pengaruh yang sangat kuat di dalam memberikan petunjuk dan pentingnya persatuan di kalangan umat Islam dalam menghadapi penjajahan. Semua itu dapat dilihat dalam qasidah, syair serta nyanyian yang ia karang.

Salah satu kitab yang dikarang oleh Habib Ahmad adalah Kitab Khidmatul Asyirah. Kitab itu dibuat sebagai ringkasan dari kitab Syams Azh-Zhahirah. Dalam kitab ini Habib Ahmad menguraikan secara sistematis mengenai nasab dan pentingnya setiap orang memelihara kesucian nasabnya dengan ahlak yang mulia. Karena tidaklah mudah untuk menjaga nasab, sebagai ikatan penyambung keturunan serta asal-usul kembalinya keturunan seseorang kepada leluhurnya.

Dalam kitab ini, riwayat seseorang ia diteliti dengan seksama supaya terjaga kesucian nasabnya, dengan susunan yang tertib dari awal sampai akhir. Habib Ahmad bekerja keras untuk menyempurnakan isi buku ini walaupun ia mempunyai kesibukan yang luar biasa baik Rabithah Alawiyah maupun sebagai pengajar di Jami’at Kheir. Segala rintangan dihadapinya dengan penuh ketegaran dan semangat pantang mundur dengan satu tekad menyusun sejarah nasab Alawiyin merupakan pekerjaan yang sangat mulia.

Habib Ahmad, dalam kitab Khidmatul Asyirah menambahkan catatan beberapa orang yang terkemuka serta para ulama yang hidup sekitar tahun 1307-1365 H, saat menulis kitab ini sekitar tahun 1363 Habib Ahmad menghitung terdapat lebih dari 300 qabilah dan kitab ini pertama kali diterbitkan di Solo pada Rabiul Awal 1365 H.

Dari sekitar 20 buah bukunya, Ahmad bin Abdullah Assagaf sempat menulis sejarah Banten berjudul Al-Islam fi Banten (Islam di Banten). Karangannya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Fatat Garut (Gadis Garut) berupa roman kehidupan multietnik Indonesia di awal abad ke-20 oleh penerbit Lentera pada tahun 1997 dan diterjemahkan oleh Drs. Ali bin Yahya. Karya sastra ini sangat indah dan patut untuk dibaca karena banyak mengandung budaya bangsa dan syair-syair.

Karya-karyanya yang lain banyak disebarluaskan di madrasah-madrasah sebagai buku wajib pelajaran sekolah baik dalam mau pun di luar negeri. Diantaranya adalah cerita-cerita yang berisi masalah pendidikan seperti Dhahaya at-Tasahul, dan Ash-Shabr wa ats-Tsabat (berisi tentang cara hidup yang baik di dalam masyarakat untuk mencapai kemulian dunia dan akhirat), buku-buku pendidikan dan ilmu jiwa, Sejarah masuknya Islam di Indonesia dan lain-lain.

Keahlian Habib Ahmad didalam syair mendapat pengakuan dari banyak ahli syair di negara Arab. Selain itu Habib Ahmad juga punya keahlian di bidang kerajinan tangan dan elektronika dan pernah membuat sebuah alat musik yang dinamakan Alarangan.

Saat tentara Jepang datang ke Indonesia pada tahun 1942 dan menyerbu Hindia Belanda serta menyebabkan pertempuran yang sengit di Batavia menyebabkan Habib Ahmad pindah ke Solo. Setelah pertempuran mereda, Habib Ahmad kembali ke Jakarta dan mengajar di Kalibata.
Setelah 40 tahun menetap di Indonesia, pada 1950 ia berniat meninggalkan Indonesia menuju ke Hadramaut.
Tepat pada hari Jumat, 22 Jumadil Awwal 1369 H ia berangkat dari Jakarta, dengan mempergunakan kapal laut dari pelabuhan Batavia. Namun Allah SWT telah menentukan umurnya, tepatnya Selasa 26 Jumadil Awal 1369 H ia berpulang ke haribaan-Nya.


Setelah diadakan upacara keagamaan seperlunya di atas kapal, pada hari Kamis, 28 Jumadil Awal 1369 H, jenazahnya kemudian dimakamkan di laut lepas, sebelum memasuki pelabuhan Medan. Yang sangat disayangkan, banyak karya Habib Ahmad yang belum sempat dibukukan juga ikut hilang dalam perjalanan itu.
Read more ...

FONOLOGI

Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari, menganalisis dan membicarakan runtutan bunyi-bunyi bahasa. Fonologi terbentuk dari kata fon = bunyi dan logi = ilmu.
Menurut hierarki satuan bunyi yang menjadi objek studinya, fonologi dibedakan menjadi:
1. Fonetik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.
2. Fonemik yaitu cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tesebut sebagai pembeda.
4.1 FONETIK
Adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.
Menurut terjadinya bunyi bahasa itu, fonetik dibedakan menjadi :
1. Fonetik Artikularis / Fonetik Organis / Fonetik Fisiologis
Mempelajari bagaimana alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa, serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.
2. Fonetik Akustik
Mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau feomena alam.
3. Fonetik Auditoris
Mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telingakita.
4.1.1 Alat Ucap
Nama-nama alat ucap yang terlibat dalam produksi bunyi bahasa :
1. Paru-paru (lung)
2. Batang tenggorok (trachea)
3. Pangkal tenggorok (larynx)
4. Pita suara (vocal cord)
5. Krikoid (cricoid)
6. Tiroid (thyroid) atau lekum
7. Aritenoid (arythenoid)
8. Dinding rongga kerongkongan (wall of pharynx)
9. Epiglotis (epiglottis)
10. Akar lidah (root of the tongue)
11. Pangkal lidah (back of the tongue, dorsum)
12. Tengah lidah (middle of the tongue, medium)
13. Daun lidah (blade of the tongue, laminum)
14. Ujung lidah (tip of the tongue, apex)
15. Anak tekak (uvula)
16. Langit-langit linak (soft palate, velum)
17. Langit-langit keras (hard palate, palatum)
18. Gusi, lengkung kaki gigi (alveolum)
19. Gigi atas (upper teeth, dentum)
20. Gigi bawah (lower teeth, dentum)
21. Bibir atas (upper lip, labium)
22. Bibir bawah (lower lip, labium)
23. Mulut (mouth)
24. Rongga mulut (oral cavity)
25. Rongga hidung (nasal cavity)
4.1.2 Proses Fonasi
Terjadinya bunyi bahasa dimulai dengan proses pemompaan udara keluar dari paruparu melalui pangkal tenggorok ke pangkal tenggorok, yang di dalamnya terdapat pita suara yang harus berada dalam posisi terbuka,melalui rongga mulut atau rongga hidung, udara diteruskan ke udara bebas.
4.1.3 Tulisan Fonetik
Tulisan fonetik dibuat berdasarkan huruf-huruf dari aksara Latin, yang ditambah dengan sejumlah tanda diakritik dan sejumlah modifikasi terhadap huruf Latin itu.
4.1.4 Klasifikasi Bunyi
Bunyi bahasa dibedakan atas vocal dan konsonan. Beda terjadinya bunyi vocal dan konsonan adalah arus udara dalm pembentukan bunyi vocal, setelah melewati pita suara, tidak mendapat hambatan apa-apa, sedangkan pembentukan bunyi konsonan, arus udara itu masih mendapat hambatan atau gangguan.

4.1.4.1 Klasifikasi Vokal
Berdasarkan posisi lidah dan bentuk mulut, vocal-vokal itu diberi nama :
[i] adalah vokal depan tinggi tak bundar
[e] adalah vokal depan tengah tak bundar
[∂] adalah vokal pusat tengah tak bundar
[o] adalah vokal belakang tengah bundar
[a] adalah vokal pusat rendah tak bundar
4.1.4.2 Diftong Atau Vokal Rangkap
Karena posisi lidah ketika memproduksi bunyi ini pada bagian awalnya dan bagian akhirnya tidak sama. Berdasarkan letak atau posisi unsur-unsurnya, Diftong dibedakan menjadi :
1. Diftong niak, karena bunyi pertama posisinya lebih rendah dari posisi bunyi yang kedua.
2. Diftong turun, karena posisi bunyi pertama lebih tinggi dari posisi bunyi kedua.
4.1.4.3 Klasifikasi Konsonan
Dibrdakan berdasarkan 3 patokan / criteria :
1. Berdasarkan posisi pita suara :
a. Bunyi bersuara, apabila pita suara hanya terbuka sedikit, sehingga terjadi getaran pada pita suara.
b. Bunyi tidak bersuara, apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getyaran pada pita suara.
2. Berdasarkan tempat artikulasinya :
a. Bilabial, konsonan yang terjadi pada kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas.bunyi [b], [p], dan [m].
b. Labiodental, konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, gigi bawah merapat pada bibir atas, bunyi [f] dan [v].
c. Laminoalveolar, konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi, daun lidah menempel pada gusi, bunyi [t] dan [d].
d. Dorsovelar, konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan vlum langitlangit lunak, bunyi [k] dan [g].
3. Berdasarkan cara artikulasinya :
a. Hambat (letupan, plosive, stop), bunyi [p], [b], [t], [d], dan [g].
b. Geseran atau frikatif, bunyi [f], [s], dan [z].
c. Paduan atau frikatif, bunyi [c] dan [j].
d. Sengauan atau nasal, bunyi [m], [n], dan [η].
e. Getaran atau trill, bunyi [r].
f. Sampingan atau lateral, bunyi [l].
g. Hampiran atau aproksiman, bunyi [w] dan [y].
4.1.5 Unsur Suprasegmental
Dalam suatu runtutan bunyi yang sambung-bersambung terus-menerus diselangseling dengan jeda singkat atau agak singklat, disertai dengan keras lembut bunyi, tinggi rendah bunyi, panjang pendek bunyi, ada bunyi yang dapat disegmentasikan yang disebut bunyi segmental.
4.1.5.1 Tekanan atau Stres
Menyangkut masalah keras lunaknya bunyi.
4.1.5.2 Nada atau Pitch
Berkenaan dengan tinggi rendahnya bunyi.
4.1.5.3 Jeda atau Persendian
Berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujar.
1. Jeda antar kata, diberi tanda ( / )
2. Jeda antar frase, diberi tanda ( // )
3. Jeda antar kalimat, diberi tanda ( # )
4.1.6 Silabel
Silabel atau suku kata adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran. Satu silabel meliputi satu vokal, atau satu vokal dan satu konsonan atau lebih.
4.2 FONEMIK
Adalah bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Objek penelitian fonemik adalah fonem.
4.2.1 Identifikasi Fonem
Untuk mengetahui apakah sebuah bunyi fonematau bukan, kita harus mencari sebuah satuan bahasa, biasanya sebuah kata, yang mengandung bunyi tersebut, lalu membandingkannya dengan satuan bahasa lain yang mirip dengan bahasa pertama, kalau kedua satuan bahasa itu berbeda maknanya, berarti bunyi tersebut adalah fonem.


4.2.2 Alofon
Adalah dua buah bunyi dari sebuah fonem yang sama. Alofon-alofon dari sebuah fonem memiliki kemiripan fonetis, banyak mempunyai kesamaan dalam pengucapannya. Distribusi alofon bisa bersifat komplementer dan bebas. Distribusi komplementer / distribusi saling melengkapi adalah distribusi yang tempatnya tidak bisa dipertukarkan dan bersifat tetap pada lingkungan tertentu. Distribusi bebas adalah bahwa alofon-alofon itu boleh digunakan tanpa persyaratan lingkungan bunyi tertentu.
Alofon adalah realisasi dari fonem, maka dapat dikatakan bahwa fonem bersifat abstrak karena fonem hanyalah abstraksi dari alofon itu dan yang konkret atau nyata ada dalam bahasa adalah alofon itu, sebab alofon itulah yang diucapkan.
4.2.3 Klasifikasi Fonem
Kriteria klasifikasi terhadap fonem sama dengan criteria yang dipakai untuk klasifikasi bunyi (fon) dan panamaan fonem juga sama dengan penamaan bunyi.
4.2.4 Khazanah Fonem
Adalah banyaknya fonem yang terdapat dalam satu bahasa. Jumlah fonem yang dimiliki suatu bahasa tidak sama jumlahnya dengan yang dimiliki bahasa lain.jumlah fonem bahasa Indonesia ada 24 buah, terdiri dari 6 buah fonem vokal (a, i. u, e, ∂, dan o) dan 18 fonem konsonan (p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, n, η, s, h, r, l, w, dan z).
4.2.5 Perubahan Fonem
Sebuah fonem dapat berbeda-beda tergantung pada lingkungannya atau pada fonem-fonem lain yang berada disekitarnya. Perubahan yang terjadi pada fonem bersifat fonetis, tidak mengubah fonem itu menjadi fonem lain.
Beberapa kasus perubahan fonem antara lain :
4.2.5.1 Asimilasi dan Disimilasi
Asimilasi adalah peristiwa berubahnya sebuah bunyi menjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu sama atau mempunyai cirri-ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. Dalam proses disimilasi, perubahan itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan.
4.2.5.3 Umlaut, Ablaut, dan Harmoni Vokal
Umlaut = perubahan vokal sedemikian rupa sehingga vokal iti diubah menjadi vokal yang lebih tinggi sebagai akibat dari vokal berikutnya yang tinggi.
Ablaut = perubahan vokal yang kita temikan dalam bahasa-bahasa Indo Jerman untuk menandai pelbagai fungsi gramatikal.
Harmoni vokal atau keselarasan vokal terdapat dalam bahasa Turki yang berlangsung dari kiri ke kanan atau dari silabel yang mendahului ke arah silabel yang menyusul.
4.2.5.4 Kontraksi
Adalah hilangnya sebuah fonem atau lebih yang menjadi satu segmen dengan pelafalannya sendiri-sendiri.
4.2.5.5 Metatesis dan Epentesis
Proses metatesis mengubah urutan fonem yang terdapat dalam suatu kata. Proses epentesis sebuah fonem tertentu, biasanya yang homorgan dengan lingkungannya, disisipkan ke dalam sebuah kata.
4.2.6 Fonem dan Grafem
1. Grafem e dipakai untuk melambangkan dua buah foe\nem yang berbeda, yaitu fonem /e/ dan fonem /∂/.
2. Grafem p selain dipakai untuk melambangkan fonem /p/, juga dipakai untuk melambangkan fonem /b/ untuk alofon /p/.
3. Grafem v digunakan juga untuk melambangkan fonem /f/ pada beberapa kata tertentu.
4. Grafem t selain digunakan untuk melambangkan fonem /t/ digunakan juga untuk melambangkan fonem /d/ untuk alofon /t/.
5. Grafem k selain digunakan untuk melambangkan fonem /k/ digunakan juga untuk melambangkan fonem /g/ untuk alofon /k/ yang biasanya berada pada posisi akhir.
6. Grafem n selain digunakan untuk melambangkan fonem /n/ digunakan juga untuk melambangkan posisi /n/ pada posisi di muka konsonan /j/ dan /c/.
7. Gabungan grafem maih digunakan : ng untuk fonem /η/; ny untuk fonem /n/; kh untuk fonem /x/; dan sy untuk fonem /∫/.

8. Bunyi glottal stop diperhitungkan senagai alofon dari fonem /k/; jadi, dilambangjan dengan grafem k.
Read more ...

Filsafat Islam

BAB 1
PENDAHULUAN

Masuknya filsafat berkembang di pesisir samudra Mediterania bagian timur pada abad 6 M yang ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menjawab persoalan seputar alam, manusia dan Tuhan. Dari Mediterania bergerak menuju Athena, yang menjadi tanah air filsafat. Ketika Iskandariah didirikan oleh Iskandar Agung, filsafat mulai merambah dunia timur, dan berpuncak pada 529 M.
Ketika filsafat bersentuhan dengan Islam, maka yang terjadi bahwa filsafat terinspirasi oleh pokok-pokok yang bermuara pada sumber-sumber hukum Islam. Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh filosofnya adalah muslim. Para filosofnya hidup dan bernafas dalam realita Al-Quran dan As-Sunah.
Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semua filosof muslim menggali kembali karya-karya filsafat Yunani, namun kemudian mereka menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih “mencari Tuhan”, dalam filsafat Islam justru Tuhan “sudah ditemukan”.







BAB 2
PEMBAHASAN

1. Pengertian Filsafat Islam
Dari segi bahasa, Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu gabungan dari kata Philo yang artinya cinta, dan Sofia yang artinya kebijaksanaan, atau pengetahuan yang mendalam. Jadi dilihat dari akar katanya, filsafat berarti ingin tahu dengan mendalam atau cinta terhadap kebijaksanaan.
Adapun makna filsafat menurut terminologi adalah berfikir secara sistematis, radikal dan universal, untuk mengetahui hakekat segala sersuatu yang ada, seperti hakekat alam, hakekat manusia, hakekat masyarakat, hakekat ilmu, hakekat pendidikan dan seterusnya. Dengan demikian maka muncullah apa yang disebut filsafat alam, filsafat manusia, filsafat ilmu dan sebagainya.
dalam pada itu perlu juga dijelaskan tentang ciri-ciri berfikir yang filosofis. Yaitu harus bersifat sistematis, maksudnya fikiran tersebut harus lurus, tidak melompat-lompat sehingga kesimpulan yang dihasilkan oleh pemikiran tersebut benar-benar dapat dimengerti. Kedua harus bersifat radikal, maksudnya harus sampai ke akar-akarnya sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dipikirkan. Ketiga harus bersifat universal yaitu menyelurug, melihat hakekat sesuatu dari hubungannya dengan yang lain dan tidak dibatasi untuk kurun waktu tertentu.
Adapun pengertian Islam dari segi bahasa adalah selamat sentausa, berserah diri, patuh, tunduk dan taat. seseorang yang bersikap demikian disebut Muslim, yaitu orang yang telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, patuh dan tunduk kepada Alloh Swt.
Islam menurut terminologi adalah Agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan oleh Alloh kepada manusia melalui nabi Muhammad sebagai Rasul Allah.
dari pengertian-pengertian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Filsafat Islam adalah berfikir secara sistematis, radikal dan universal tentang hekekat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam. Singkatnya filsafat Islam itu adalah Filsafat yang berorientasi kepada Al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah.
Jadi ciri utama filsafat Islam adalah berfikir tentang segala sesuatu, dapat berfikir teratur, tidak cepat puas dalam penemuan sesuatu,selalu bertanya dan saling menghargai pendapt orang lain.
Filsafat adalah induknya segala ilmu, sebagai induk segala ilmu, maka filsafat mempengaruhi ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu fiqih, ilmu kalam, tafsir dan sebagainya. Berbicara mengenai hukum fiqih, maka fiqih sendiri bengandung arti mengerti dan memahami. Untuk memahami diperlukan pikiran dan penggunaan akal. Selain itu fiqih juga memakai ijtihad yang pada intinya adalah pemakaian akal untuk dalil-dalil yang bersifat dzonniy dan terhadap kasus-kasus hukum yang tidak jelas atau sama sekali tidak ada dasarnya baik dalam Al Qur’an maupun Al Hadits.
Demikian juga untuk menafsirkan Al Qur’an, menjelaskan hubungan manusia dengan Alloh dalam ilmu Tasawwuf, menjelaskan kandungan hadits, banyak sekali digunakan pemikiran. Dengan demikian filsafat sangat besar pengaruhnya terhadap ilmu pengetahuan.
2. Sejarah Tumbuhnya Filsafat Islam
Jalan filsafat Islam dibentangkan oleh 2 lingkungan yang hidup sejaman yang sama-sama meletakkan sendi-sendi kajian rasional Islam. Pertama adalah lingkungan kaum penerjemah yang memasok dunia Islam dengan buah pemikiran klasik, baik timur maupun barat. Kedua, lingukngan sekte-sekte teologi Islam.
Bahasa Arab memang memanfaatkan ajaran filsafat timur dan barat sebagai penaklukan-penaklukan Islam. Mereka mempelajari teks-teks tertulis dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada tahun-tahun terakhir abad pertama hijriah, tampillah sebagian penerjemah dari bahasa asing. Gerakan ini berjalan 3 abad dan dilaksanakan oleh para penerjemah spesialis yang menguasai bahasa Arab. Mereka ada yang berspesialisais pada aspek-aspek tertentu dari peradaban, seperti kedokteran, filsafat-filsafat.
Gerakan penerjemah Islam mengarah sedemikian rupa kepada hikmah dan filsafat, sehingga berhubungan dengan kebudayaan Hindu-Persia dan menerjemahkan dari literatur-literatur Brahmanisme, Samaniah, dsb. Ia memberikan perhatian khusus kepada filsafat Yunani, sehingga mengenal pendahulu Socrates dan tokoh-tokoh aliran Alexandria. Pemkiran Platinus, walaupun pendapat orang lain, mendapat porsi yang baik dikalangan umat muslim. Tidak diragukan lagi bahwa Platonisme lebih dekat kepada pemikiran Islam, karena mengandung unsur perpaduan antara filsafat dan agama.
Para penerjemah juga menulis langsung. Sebagian ada yang difokuskan pada kedokteran, kimia, falak/filsafat, yang tidak kalah pelak lagi merupakan langkah awal bagi tulisan ilmiah dan filsafat Islam. Para penerjemah itu mengadakan kontak dengan para pemikir yang ada disekitarnya.
Kelompok-kelompok aliran kalamiah, pada tahun terakhir abad pertama hijriah, mengangkat ke permukaaan problematika-problematika filsafat, seperti masalah determinisme. Dan pada abad kedua hijriah lahir problem akidah Islam.

3. Ciri Khas Filsafat Islam
1. Sebagai filsafat religius-spritual
Dikatakan filsafat religius, karena filsafat Islam tumbuh dijantung Islam, tokoh-tokohnya dididik dengan ajaran Islam dan hidup dalam suasana Islam. Filsafat Islam merupakan perpanjangan dari pembahasampembahasan keagamaan dan teologi yang ada sebelumnya.
Topik-topik filsafat Islam itu bersifat religius, seperti meng-Esakan Tuhan. Karena Ia adalah pencipta, maka Ia mencipta dan bukan sesuatu, mengatur dan menatanya3. Ia menciptakan dengan semata-mata anugerah- Nya. Ia jaga dengan perhatian-Nya dan Ia tundukan dengan kepada hukum-hukum permanen dan kokoh. Dengan cara religius dan spiritual ini, filsafat Islam bisa mendekati filsafat skolastik, bahkan sejalan dengan filsafat kontemporer.
2. Filsafat Rasional
Walaupun bersifat religius-spiritual, tetapi filsafat Islam juga amat bertumpu pada akal dalam menafsirkan problematika ketuhanan, manusia dan alam. Akal manusia merupakan salah satu potensi jiwa. Ia ada 2 macam. Pertama, praktis bertugas mengendalikan badan dan mengatur tingkah laku. Kedua, teoritis khusus berkenaan dengan persepsi dan epistemology. Karena akal praktis inilah yang menerima persepsi-persepsi inderawi dan meringkas pengertian universal dengan bantuan akal aktif. Dengan akal, kita menganalisa dan membuktikan. Dengan akal, kita menyingkap realita-realita ilmiah. Karena akal merupakan salah satu pintu pengetahuan.
Para filosof Islam sejalan dengan Mutazilah yang mendahului mereka dalam mengagungkan akal dan tunduk kepada hukumnya. Mereka bertumpu pada akal dalam banyak hal. Untuk itu, mereka sepakat bahwa dengan akalnya manusia mampu membedakan baik dan buruk, bahkan mampu membedakan baik dan buruk sebelum ada ketentuan agama. Mereka mengemukakan teori bahwa Allah harus melakukan yang baik dan yang terbaik, sehingga perbuatan Allah tidak terlepas dari kriteria baik.
3. Filsafat Sinkretis
Filsafat Islam memadukan antar sesama filosof. Akan tetapi, mereka konsentrasi khusus mempelajari Plato dan Aristoteles. Mereka menerjemahkan hampir semua buku standar Aristoteles. Aritoteles dan Plato amat mempengaruhi banyak aliran Islam. Tidak pelak lagi,
Aristoteles dan Plato adalah pemimpin filsafat, yang meletakkan prinsiprinsipnya, membicarakannya secara detail, mencapai tujuan dengan prinsip-prinsip itu. Namun, tidak mungkin kita mengharapkan kesuksesan
perpaduan yang landasannya salah. Akan tetapi, hal ini merupakan titik awal yang melandasi para filosof selanjutnya. Jika perpaduan Plato dan Aristoteles sebagai salah satu asas yang melandasi filsafat Islam, maka prinsip yang kedua adalah memadukan filsafat dengan agama. Selain berciri religius, filsafat Islam juga memasukan teks agama dengan akal.
Dalam filsafat, ada aspek yang tidak sesuai dengan agama. Itu sebabnya mengapa para filosof Islam sibuk memberi ciri agama kepadafilsafat. Perpaduan yang diusahakan para filosof Islam merupakan salah satu rajutan jembatan yang mendekatkan filsafat Arab dengan filsafat latin.
4. Tokoh-Tokoh Filsafat Islam
Beberapa tokoh filsafat Islam antar lain :
1. Al-Kindi
Al-Kindi merupakan filosof kenamaan pertama. Beliau bukan hanya seorang filosof, tetapi juga ilmuwan pada jamannya. Mengenai filsafat, Al-Kindi berpendapat bahwa antara agama dan filsafat tidak ada pertentangan. Ilmu tauhid adalah cabang termulia dari filsafat. Filsafat membahas kebenaran/hakekat. Dan hakekat pertama itu adalah Tuhan. Al- Kindi mengulas teori keadilan Tuhan dan berpendapat bahwa semua perbuatan Allah itu tidak mengandung unsur zalim. Al-Kindi juga membicarakan soal jiwa dan akal. Jiwa manusia mempunyai 3 daya. Daya bernafsu yang terpusat di perut, daya berani yang berpusat di dada, dan daya berpikir yang berpusat di kepala. Daya berpikir inilah yang disebut akal. Dalam pemikiran filosofisnya, Al-Kindi banyak dipengaruhi oleh Aristoteles, Plato dan Neo-Platonisme.
Sebagian besar karya beliau (berjumlah sekitar 270 buah) lenyap.Ibnu al nadim berdasarkan tulisan alqifti mengelompokkan tulisan-tulisan Al-Kindi menjadi 17 kelompok,yaitu:
·                    Filsafat,seperti kitab al kindi ilal mu’tasyim billah fil falsafah al ula,kitab al harts ala ta’allum al falsafah,kitab fi ibarat al jawami al fikriyah,dan lain sebagainya.
·                    Logika,seperti ikhtisar kitab isaghuji li farfuris,risalah fi’amal alah mukhrijat al jawami,risalah fil ashwat al khomsah,dan lain sebagainya.
·                    Ilmu hitung,seperti risalah fil kamiyat al mudhofah,risalah fi ta’lif al a’dad,risalah fil madkhal ilal aritmatiqhi,dan lain sebagainya.
·                    Sferika,seperti risalah fil kuriyat,rialah fi amalia samiti ala kuroh,risalah fi tashihil kurah,dan lain sebagainya.
·                    Music,risalah al kubra fit ta’lif,risalah fil madkhal ila shina’atil musiqi,dan lain sebagainya.
·                    Astronomi,seperti risalah mathrah al syu’aa,risalah fil fashlayn,dan lain sebagainya.
·                    Geometri,sepeerti risalah fi ikhtilaf manazhir al mir’at,risalah fi aghradh kitab uglidis,dan lain sebagainya.
·                    Sfera-sfera langit,seperti risalah fi zhahiriyah al falak,risalah fil alan al aqsha,dan lain sebagainya.
·                    Ilmu pengobatan,seperti risalah fil ghidza wad dawa’al muhlik,risalh fi aqsam al humayyat,dan lain sebagainya.
·                    Astrologi,seperti risalah fi madkhal ahkam,risalah fil qada’ alal kusuf,dan lain sebagainya.
·                    Psikologi,seperti risalah fi mahiyat al nawm war ru’ya,kalm lil kindi fin nafs,mukhtasyar wajiz,dan lain sebagainya.
·                    Tulisan-tulisan polemix,seperti risalah fir radd alats tsanawiyah,risalah fi jawahir alajsm,dan lain sebagainya.
·                    Politik,seperti risalah fi tashil subul al fadhail,risalah fi alfazh sughath,dan lain sebagainya.
·                    Meteorology,seperti risalah fi illat ikhtilaf anwa’us sanah,risalah fi ma’iyat az zaman wal hin wad dhar,dna lain sebagainya. Kebesaran(magnitude),seperti risalatuhul kubra fir rub’il maskun,risalah fi akbar an ad ajram,dan lain sebagainya.
·                    Ramalan,seperti risalah fin nahl,risalah fi na’til hijarah,dan lain sebagainya.
2. Al-Farabi
Al-Farabi memfokuskan diri pada kebahagiaan, yang menurutnya tujuan tertinggi yang didambakan manusia yang bisa diraih hanya dengan perbuatan terpuji melalui kehendak dan pemahaman yang diniati. Dari aspek psikologis, Al-Farabi berkonsentrasi untuk menjalankan ‘amal iradi. Untuk itu, beliau membedakan iradah dari ikhtiar. Beliau berpendapat bahwa iradah (kehendak) dilahirkan oleh rasa rindu dan keinginan yang dibangkitkan oleh rasa dan imajinasi. Sedangkan ikhtiar semata-mata dilahirkan oleh pemikiran dan analisa.
Al-Farabi menjelaskan bahwa manusia bisa berbuat baik jika ia berkehendak. Karena ia bebas untuk mewujudkan apa yang ia kehendaki dan perbuat. Namun kebebasan ini tunduk kepada hukum-hukum alam, masing-masing diberi fasilitas sesuai dengan kejadiannya, dan setiap yang ada ini terjadi atas qada dan qadarnya. Karangan-karangan beliau yaitu:
• Agradhu ma ba’da at tabi’ah
• Al jam’u baina ra’jai al hakimain
• Tahsil as sa’adah
• ‘ujun ul masa’il,dan lain sebagainya.
3. Ibnu Sina
Ibnu Sina terkenal dengan 2 bukunya, yaitu Al-Qanun Fi AL-Tibb dan Al-Syifa. Al-Qanun, suatu ensiklopedia tentang ilmu kedokteran. Al- Syifa merupakan ensiklopedia tentang filsafat Aristoteles dan ilmu pengetahuan.Ibnu Sina mengulang pernyataan Al-farabi, “berbuatlah karena masing-masing diberi kebebasan sesuai dengan kodratnya”.
4. Ibnu Rusyd
Ibnu Rusyd banyak memusatkan perhatiannya pada filsafat Aristoteles dan menulis ringkasan-ringkasan dan tafsiran yang mencakup sebagian besar karangan filosof Yunani tersebut. Dalam bidang filsafat, Tahafut Al-Tahafut, beliau tulis sebagai jawaban atas buku Al-Ghazali, Tahafut Al-Falasiyah.
Buku-buku Ibnu Rusyd mengenai filsafat Aristoteles banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan berpengaruh bagi ahli pikir Eropa. Kemudian di Eropa trdapat aliran Averroism. Menurut aliran ini, filsafat mengandung kebenaran, sedangkan agama dan wahyu membawa hal-hal yang tidak benar. Pendapat ini mungkin bersumber dari Ibnu
Rusyd. Kekeliruan ini timbul dari kesalahpahaman penulis barat tentang tafsiran Ibnu Rusyd terhadap filsafat Aristoteles.
5. Pengaruh Filsafat Islam
Hingga kini dapat diketahui bahwa filsafat Kristen tepengaruh oleh filsafat Islam. Ini berakar pada tahun-tahun terakhir abad 12, disaat orang latin mulai kontak dengan Arab melalui utusan-utusan mereka ke Sisilia dan Andalusia. Pengaruh ini tampak jelas dan kuat pada abad 13 dan merambat hingga jaman Renaissance.
















BAB 3
PENUTUP

Filsafat Islam muncul bersamaan dengan filosof pertama, yaitu Al-Kindi, pada pertengahan abad 9 M. Setelah berlangsung gerakan penterjemah buku ilmu dan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab lebih dari setengan abad di Baghdad. Para filosof tertarik dengan filsafat Islam karena berfilsafat merupakan tuntutan agama dalam rangka mencari kebenaran dan mengamalkan kebenaran itu. Yang mereka gunakan sebagai saringan (filter) adalah Al-Quran dan As-Sunah.
Filsafat Islam membicarakan masalah besar filsafat, seperti teori mengenal kebahagiaan dan keutamaan, hubungan manusia dan Tuhan dan sebaliknya. Selain itu, filsafat Islam juga mencakup kedokteran, hukum dan ekonomi. Juga memasuki ilmu-ilmu keislaman, seperti ilmu fikih.
Filsafat Islam mencapai puncaknya di zaman Al-Farabi dan Ibnu Sina. Setelah ada pertentangan di antara para ulama mengenai kefilsafatan Ibnu Rusyd, perhatian orang terhadap filsafat menjadi berkurang. Dan perhatian itu baru bangkit dan berkembang kembali pada satu abad terakhir ini (abad 20).






DAFTAR PUSTAKA

1.    Madkour, Dr. Ibrahim. 1995. Aliran dan Teori Filsafat Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
2.    Nasution, Prof. Dr. Harun. 1992. Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta : Bulan Bintang.
3.    Qadir, C. A. 1989. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

4.    Nata, Dr. H. Abuddin. 2001. Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Read more ...