KHUTBAH JUM’AT BULAN SHAFAR
TEMA KONTROFERSI MEMBANGUN JIWA VERSUS
GEBYAR IMING-IMING DUNIA
الحمد لله. الحمد لله الذى
علم الموجود بر حمته. وأفا ض على كل موجـود سـجال نعمـته. وعـم ا لأ نام
ببحـر جـوده وكرامه. سبحان لا تحصى ثناء عليه . ان ا لا مر كله منه
واليه . احمده سبحانه وتعالى وأشكره . وأتوب اليه وأستغفره . من جميع الذنوب
والمآثم . واشهد ان لا اله إ لا الله وحده لا شر يك له. شهادة
من امن با الله وملا ئكته وكـتبه ورسـله . واشـهد أن سيـدنا
محـمدا ورسوله النبي الاواه. اللهـم صل علي سيدنا محــمد وعلى
اله وأصحـابه الطّــيبـين ا لأ خيار. (أما بعد) فيا أيها
الناس . إتّقوا الله بإتيان أوامر الله وا لا نتهآء عن المنكر . وسبحوا الله
تسبيحا كثـيرا بالعشـى ولإبكـار . وميزوا الحق عن الباطل بالعلم والعقل وا
لأ فكار.
HADIRIN SIDANG JUM’AH
RAHIMAKUMULLAH .......
Dengan penuh kesadaran, marilah kita sanjungkan
rasa syukur kita kehadirat Illahi Rabby yang telah senantiasa melimpahkan
rahmad, karunia, dan nikmatnya yang tiada terhingga, hingga kita tak
berkemampuan untuk menghitungnya, dalam rangka membangun “jiwa, hati nurani dan
intuisi/ perasaan kita”.
Disamping itu marilah kita pertebal keimanan dan
ketaqwaan kita, rasa takut kita kepada Allah Swt. dengan melaksanakan apa yang
menjadi perintah-Nya dan mencegah diri dari perkara-perkara mungkar yang
menjadi larangan-Nya. Dengan memperbanyak bacaan Tasbih “Subhanallah Wal
Hamdulillah Wa Laailaa Haillahaa Illallahu Wallahu Akbar, Laa Haula Walaa
Quwwata Illah Billahil ‘Aliyyil ‘Adziim”, kita berharap muncul pencerahan jiwa
dari hati nurani kita, sehingga kita dapat membenarkan segala perkara yang
“Haq” dan membatalkan perkara yang “Bathil” dengan landasan firman, ilmu
pengetahuan dan akal fikiran yang sehat dalam bingkai “Rasionalitas yang
benar”.
HADIRIN SIDANG JUM’AH YANG BERBAHAGIA . . . .
“MEMBANGUN JIWA” pada hakekatnya adalah
merupakan prioritas yang semestinya kita dahulukan dari pada “MEMBANGUN RAGA”
atau “BADAN” kita. Wage Rudolf Supratman dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya
menyebutkan ;” Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya !”
begitulah antara lain, kita bangsa Indonesia selalu menyanyi. Dalam sudut
pandang yang lain, jika kita tengok kembali lima tujuan prinsip dalam
pencanangan syari’at Islamiyyah atau yang biasa disebut dengan “Maqaashid
Al-Syari’ah Al-Khams” yaitu memelihara dan memberikan perlindungan – dalam arti
yang luas terhadap agama, akal, jiwa, nasab, (keturunan) dan harta benda, juga
mencerminkan betapa komponen-komponen yang secara bulat berkaitan dengan
aspek-aspek kejiwaan lebih mendapat perhatian yang besar.
Namun entah mengapa, dan kapan mulainya,
tiba-tiba saja kita dan bangsa Indonesia terkesan hanya mengurusi raga dan
melupakan jiwa. Apakah karena terlalu populernya ‘semboyan olah raga’ “Di dalam
tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat” atau karena penekanan pembangunan
kita yang terlalu bertumpu pada sektor ekonomi ? mari kita cari jawabannya
bersama-sama . . . !
Jika kita mengkalkulasi kesibukan dan aktifitas
kita sehari-hari; berapa persenkah jatah untuk dan dalam rangka mengolah jiwa,
bila kita bandingkan dengan prosentase bagi membangun dan memanjakan raga-raga
kita ? lihatlah super-super market, pasar-pasar swalayan, restoran-restoran
yang terus tumbuh dan berkembang dan selalu kita padati demi pemanjaan terhadap
raga-raga kita. Saksikanlah pula iklan-iklan yang setiap saat dijejalkan
kerumah-rumah kita melalui telivisi, radio, majalah-majalah dan lain
sebagainya, mulai dari rokok, segala jenis makanan dan minuman, berbagai jenis
pakaian dan perumahan indah, hingga segala macam alat kosmetika dan penyedap
bau badan, yang hampir semuanya menina bobokkan kita sehingga kita lupa untuk
ngopeni kegersangan jiwa kita.
HADIRIN SIDANG JUM’AH YANG DIMULIAKAN ALLAH . .
. .
Dari sinilah terbukti kiranya kebenaran
Al-Qur'an yang menyebutkan bahwa “manusia” menurut penciptanya sendiri memang
menyenangi kehidupan dunia dan cenderung mengabaikan akhirat. Sebagaimana
disebutkan di dalam Al-Qur'an :
كلا بل تحبون العاجلة .
وتذرون ا لأ خرة
Artinya : “Sekali-kali
janganlah demikian, Sebanarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
dan meninggalkan kehidupan akherat” (QS. Al-Qiyamah : 20 dan 21)
Bahkan manusia, seperti juga difirmankan
penciptanya Allah Swt. terpedaya dan menganggap baik atas segala kesenangan
mereka sendiri. sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat
14 :
ز ين للناس حب الشهوات من
النسآء والبنين والقناطيرالمقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة وا لأ نعام
والحرث. ذلك متاع الحياة الدنيا . والله عنده حسن المئاب.
Artinya : “Dijadikan indah
pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkannya yaitu :
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, (mas picis
– rojobrono), kuda atau mobil pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allahlah tempat kembali
yang baik yakni (surga)”.
Semua sifat-sifat manusia ini, ditambah lagi
dengan “perangai-perangai dasar” manusia seperti kecenderungan mereka untuk
berlebih-lebihan, suka segera enak, egois, pelupa dan lain sebagainya membuat
kecenderungan mereka untuk semata-mata menikmati kesenangan hidup di dunia
menjadi semakin total, nyata dan mudah menjadi keniscayaan. Dan oleh karenanya,
tidaklah heran jika kemudian yang terjadi adalah; budaya-budaya semacam
matrealisme, konsumerisme, hedonisme dan lain sebagainya laku keras dan
mendapat antusias lebih dikalangan makhluk yang bernama “manusia” ini.
Faham-faham inilah, yang percaya atau tidak
menjadikan manusia yang “Ahsani taqwim” ini menjadi lebih mirip hayawan ternak
bahkan lebih rendah daripadanya. Naudzubillahimindzalika.... Sehingga
tokoh-tokoh semacam Fir’aun cs, Qorun, Abu Jahal cs dan semisalnya menjadi
idola-idola mereka. Fir’aun yang sampai mengaku menjadi Tuhan dan membunuhi
rakyatnya, qorun yang juga memproklamirkan diri sebagai Tuhan karena
kekayaannya yang dapat menghidupi pengikutnya, Abu Jahal, Abu Lahab dan kaum
jahiliyah yang bangga terhadap berhala dan harta benda, kaum ‘Ad, Tsamud kaum
Sodom dan sebagainya yang angkuh dan tak tahu malu, mereka semua seenaknya
sendiri merampas hak orang lain, tega membunuh saudara sendiri, yang sudah
terhormat masih juga nyolong, yang sudah kaya malah semakin serakah, yang
dengan bangga membabati dan mengeruk kekayaan negara, suami yang tak risih
menjual istrinya, ibu tega menjual diri dan anaknya, mereka yang senang
menjilat yang kuat dan menginjak yang lemah dan seterusnya dan sebagainya, itu
semua tidak lain adalah karena akibat dan gara-gara mengikuti faham-faham di
atas, dan memburu kesenangan-kesenangan duniawi.
Ketika kehidupan masyarakat kita sudah
sedemikian adanya, maka patutlah kiranya kita menyadari bahwa sesungguhnya
kehidupan dunia ini hanyalah permainan belaka dan sesuatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah-megahan serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta
dan anak. Dan kitapun tahu bahwa kehidupan dunia ini tidaklah lain hanyalah
kesenangan yang menipu, dan diakherat nanti ada adzab yang keras.
HADIRIN SIDANG JUM’AH RAHIMUKUMULLAH. . . .
Bagi umat Rasulillah Saw yang mengimani hari
akhir dan memandang dunia ini hanyalah “Mazratul Akhirah” (tempat menanam
kebaikan akherat), haruslah menyadari bahwa kecenderungan dari dalam diri dan
gebyar iming-iming dari luar yang menunjangnya adalah merupakan adalah fitnah,
ujian dan cobaan.
Tinggal kita kuat menghadapi cobaan itu atau
tidak, bisa lulus ujian atau tidak, itu semua tentunya sangat tergantung pada
sejauhmana kesanggupan dan kemampuan kita untuk mengendalikan faktor-faktor
kecenderungan dan kuatnya godaan dari “dalam” atau pengaruh kemilau dari
“luar”. Kunci suksesnya adalah terletak pada keberhasilan kita dalam melakukan
“olah jiwa” secara terpadu dan kompatibel atau harmonis. Yaach . . .
paling tidak kita dapat mengimbangi berbagai kecenderungan tersebut dengan
“Hasanah fil akherat”.
Sehubungan dengan hal itu, ketika kita
mengulang-ulang do’a paten “sapu jagad” kita :
ربنا اتنافى الدنيا حسنة و
فى ا لأ خرة حسنة وقنا عذاب النار
Kitapun sadar, bahwa
sesungguhnya kita sedang memohon kesenangan di dunia dan kesenangan diakherat.
Tetapi kitapun harus tahu, bahwa sesungguhnya “Hasanah fid dunya” yang sering
kita artikan dengan bahagia, sejahtera dan senang sesenang-senangnya di dunia,
belum tentu merupakan sarana untuk memperoleh “Hasanah fil akhirah”, sebab,
tentunya tidak bisa disebut “Hasanah fid dunya” jika mengakibatkan “Sayyi’ah
fil akherat” kesengsaraan dihari kemudian. Jadi do’a ampuh itu, paling tidak
menurut saya, justru untuk menangkal kecenderungan “semata-mata” menikmati
kesenangan hidup di dunia. Walllahu A’lam bis shawab . .. . .Mudah-udahan kita
senantiasa diberi taufiq, dan hidayah oleh Alloh SWT., sehingga kita
berkemampuan untuk menangkal segala godaan baik yang muncul dari dalam diri
kita sendiri maupun dari luar. Amin-Amin yaa rabbal ‘Alamin.
والله سبحا نه وتعالى يقول
وبقول يهتد المهتدون . واذا قر ئ القر آن . فاستمــــــعوا له وأنصـــــــتو
ا لعلكــــم ترحمــون . أعـوذ بالله من الشّيطان الر جيم . بسم الله الرحمن الرحيم من عمل صالحا فلنفسه ومن اسآء
فعليها فماربك بضلام للعبيد. بارك الله لى ولكم فى القرأن العظيم ونفعنى
وايكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم تلاوته انه هو السميع
العليم. واستغفرواالله العظيم لى ولكم فيافوز المستغفرين ويانجاة التائبــين.
Muslim Rahmatan Lil 'Alamin
Oleh Dr. KH. Ahmad Kusyairi
Suhail, MA
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْشَأَ وَبَرَى، وَخَلَقَ اْلمَاءَ وَالثَّرَى، وَأبْدَعَ كُلَّ شَيءٍ وَذَرَا، أَحْمَدُهُ عَلىَ نِعَمِهِ الَّتيِلاَ تَزَالُ تَتْرَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الَّذِيْ لاَ يَغِيْبُ عَنْ بَصَرِهِ صَغِيْرُ النَّمْلِ فيِ اللَّيْلِ إِذَا سَرَى،وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلِهِ اْلمُصْطَفَى. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اْلمَبْعُوْثُ فيِ أُمِّاْلقُرَى، وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اْنتَشَرَ فَضْلُهُمْ فيِ الْوَرَى، أَمَّا بَعْدُ. فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَىاللهِ فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ .
Jamaah shalat Jum'at rahimakumullah.
Marilah kita senantiasa bertakwa dan
meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Sebab, hanya dengan takwa kita
akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Salah satu faktor penyebab keberhasilan dakwah
dan perjuangan Rasulullah Saw dalam membangun peradaban umat manusia adalah
kepribadian beliau yang mempesona dan penuh kharisma serta akhlaknya yang luhur
dan mulia. Beliau disenangi oleh semua orang, baik kawan maupun lawan.
Sampai-sampai lawanpun menjuluki beliau Al Amin; orang yang sangat dipercaya. Semua orang merasa
senang dan damai berada di sisinya atau di majelisnya. Jika beliau pergi,
kedatangannya sangatlah dirindukan. Hal ini, karena beliau penebar kasih sayang
dan kedamaian. Namun, beliau pun dalam beberapa kesempatan juga bisa tegas,
namun bukan keras. Keparipurnaan kepribadian Nabi Muhammad Saw inilah
yang membuat beliau –dengan izin Allah- mampu menyelamatkan umat manusia dari
beragam bentuk kezhaliman (kegelapan) dalam semua aspek kehidupan menuju cahaya
Islam. Sehingga sinar Islam pun memancar ke seluruh penjuru dunia.
Kepribadian seorang muslim yang seharusnya
melekat pernah Rasulullah sabdakan dalam hadits berikut :
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ:" قَالُوا
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ؟" قَالَ: « مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ
لِسَانِهِ وَيَدِهِ » (رواه البخاري)
Dari Abu Musa Ra, ia berkata, mereka
(para sahabat) bertanya, “Ya Rasulullah, Islam (seperti) apa yang
paling afdhal (paling utama)? Beliau Saw menjawab, “Yaitu orang yang
orang-orang muslim lainnya selamat dan aman dari (gangguan) lisan dan
tangannya” (HR. Bukhari)
Hadits senada dengan hadits di atas, dengan
sedikit perbedaan pada redaksi, juga banyak diriwayatkan oleh para ulama hadits
lainnya. Di antaranya:
Dari Amr bin Ash Ra, ia berkata: sesungguhnya
seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw,
أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ؟ قَالَ: « مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ
لِسَانِهِ وَيَدِهِ »
(رواه مسلم)
"Orang-orang Islam seperti apa yang paling baik?
Beliau Saw menjawab, “Yaitu orang yang kaum muslimin lainnya aman dari
(gangguan) lisan dan tangannya” (HR. Muslim)
Sedangkan Imam Tirmidzi dalam kitab “Sunan”nya
meriwayatkan dengan redaksi tambahan yang makin melengkapi makna yang
terkandung di dalamnya, yaitu:
Dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw
bersabda,
« الْمُسْلِمُ
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ
النَّاسُ عَلَى دِمَائِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ »(رواه الترمذي و أحمد)
“Orang muslim yang sejati adalah orang yang orang-orang
Islam lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya. Dan orang yang
mukmin yang sejati adalah orang yang bisa menjaga keamanan (keselamatan) darah
dan harta manusia lain” (HR. Tirmidzi dan Imam Ahmad).
Hadirin jamaah sholat jum’at yang dimuliakan Allah
Hadits-hadits Nabi di atas menunjukkan betapa
kekerasan, anarkisme dan menebar teror di tengah komunitas muslim bukanlah
bagian dari ajaran Islam. Dalam hadits tersebut, Rasulullah Saw menjelaskan
bahwamuslim yang sejati adalah orang yang selalu menebar kasih
sayang, bukan menebar ketakutan. Selalu
hati-hati dan berpikir seribu kali dalam berucap dan berbuat sehingga tak ada
ucapan dan perbuatan yang menyakiti dan melukai dan menciderai hati dan fisik
orang lain.
Imam Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits yang
diriwayatkan Imam Bukhari mengatakan, bahwa Alif dan Lampada lafazh ‘Al Muslim’
adalah memiliki makna sempurna.
Ini berarti bahwa kesempurnaan seorang muslim
sangat ditentukan oleh sejauh mana orang-orang di sekelilingnya merasa nyaman,
aman dan tenteram dengan keberadaannya. Selalu aktif memberikan kontribusi apa
pun; baik ide, pikiran, tenaga, waktu maupun harta benda untuk kebaikan
lingkungan sekitarnya. Tutur katanya baik, lembut dan menyejukkan. Perilaku dan
tindak dan tanduknya tidak menimbulkan kecurigaan karena akhlak mulia itu
transparan dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Karena itulah kehidupan
Rasulullah Saw bagaikan “Kitab Maftuh”, kitab yang terbuka yang bisa dibaca
oleh semua lapisan masyarakat; dewasa maupun anak kecil, laki-laki maupun kaum
perempuan.
Hadirin yang berbahagia
Bahkan, dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi tadi
disebutkan bahwa masalah ini termasuk dalam Qadhaya Imaniyah (diskursus keimanan). Artinya melukai hati dan fisik
orang lain dapat menurunkan kualitas keimanan seorang muslim. Menjaga
keselamatan jiwa dan keamanan harta orang lain termasuk barometer iman.
Penggunaan redaksi “An Naas” yang berarti
manusia, bukan “Al Muslimun” (orang-orang Islam) seperti pada kalimat
sebelumnya, menunjukkan bahwa Islam juga sangat menghormati pluralitas. Nabi Saw pun pernah berwasiat kepada Abu Dzar
Ra,
« اِتَّقِ
اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ » (رواه الترمذي و أحمد)
“Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada.
Ikutilah keburukan dengan kebaikan, niscaya ia (kebaikan) akan menghapusnya.
Dan pergauilah manusia dengan akhlak mulia” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
Jadi, menerapkan akhlak mulia dalam bergaul dengan
manusia, apa pun etnis, suku dan agama dan kebangsaannya, termasuk bagian dari
takwa.
Karenanya perasaan aman, nyaman dan tenteram ini
juga hendaknya mencakup komunitas non muslim selama mereka tidak
memerangi dan memerangi kita. Semangat inilah yang sesungguhnya juga disuarakan
sangat nyaring oleh Al-Quran,
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu
dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah: 8).
Jamaah shalat jum’at rahimakumullah
Dalam konteks ini, maka bisa dimaklumi mengapa
para ulama seperti Syekh Dr. Yusuf Al Qardhawi, Syekh Salman bin Fahd Al‘Audah
dan lainnya ketika mengkaji masalah Al Amaliyyah Al
Istisyhaadiyah (bom syahid), mereka
tidak membolehkan penerapan hal ini secara mutlak di semua tempat, dalam semua
situasi dan kondisi dengan sasaran semua orang. Mereka hanya membolehkan dengan
beberapa syarat, di antaranya:
Pertama, Dilakukan di medan jihad.
Artinya negeri yang secara syar’i telah dinyatakan sebagai medan jihad, seperti
di Palestina yang dijajah oleh Israel dan lain-lain.
Kedua, Diniatkan semata-mata untuk
meninggikan kalimat Allah, bukan mencari sensasi dan popularitas.
Ketiga, Memastikan bahwa apa yang
dilakukannya benar-benar dapat melemahkan barisan musuh dalam peperangan itu
dan menguatkan maknawiyah (mentalitas) dan kekokohan barisan tentara muslim.
Keempat, Hal itu dilakukan
terhadap orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Sebab, dalam tinjauan syari’at Islam kaum kafir itu terbagi dalam beberapa katagori.
Ada orang-orang kafir yang Musaalimun(menyerahkan sepenuhnya urusannya kepada pemerintahan Islam). Ada yang Musta’minun (meminta perlindungan keamanan), ada yang Dzimmiyyun dan Mu’aahidun (yang mengadakan kesepakatan perjanjian dengan kaum
muslimin). Tidak semua orang kafir boleh dibunuh secara mutlak, bahkan
Rasulullah Saw pernah bersabda,
وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عَمْرِو ٍ عَنْ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ:
« مَنْ
قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ
مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا » (رواه البخاري)
“Barangsiapa membunuh orang kafir yang Mu’aahid (telah mengadakan perjanjian
dengan kaum muslimin), maka ia tidak akan mencium bau surga. Padahal
sesungguhnya wangi surga itu tercium dari jarak perjalanan 40 tahun” (HR. Bukhari).
Kelima, Mendapat izin kedua orang
tua.
Mereka mendasarkan hal itu dari banyak dalil, di
antaranya hadits tentang anak muda dalam kisah Ashhaabu’l Ukhdud yang diriwayatkan oleh Shuhaib dalam Shahih
Muslim dan Musnad Imam Ahmad.
Juga riwayat dalam Tafsir Ath
Thabari, dari Abu Ishaq As Subai’i berkata:
Aku bertanya kepada Barra’ bin Azib Ra, “Wahai Abu Umarah, bagaimana jika ada
seorang dilempar ke kerumunan musuh yang berjumlah seribu orang, sementara dia
sendirian [yakni; kemungkinan besar ia akan terbunuh] apakah hal ini termasuk
orang yang disinggung Allah Swt dalam ayat,
“.. dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu
sendiri ke dalam kebinasaan,” (QS. Al Baqarah: 195)
Lalu, Barra’ (sahabat Nabi) menjawab,
“Tidak, silahkan ia berperang hingga terbunuh (syahid). Allah Swt berfirman
kepada Nabi-Nya Saw,
“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan
dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk
berperang).” (QS. An Nisaa’ : 84).
Kaum muslimin rahimakumullah
Sementara dalam kajian Ibnu
Katsir, Barra’ bin Azib Ra menjelaskan
tentang maksud ayat tersebut adalah tentang sedekah, yakni meninggalkan
bersedekah dalam jihad adalah termasuk menjatuhkan dalam kebinasaan (Lihat Tafsir
Ibnu Katsir, vol. I/206).
Karenanya, tidak benar jika apa yang dilakukan
oleh pejuang Hamas, misalnya, di Palestina yang meledakkan diri di tengah
kerumunan orang Israel itu adalah bom bunuh diri, melainkan itu termasuk bom
syahid dan mereka bukanlah teroris seperti yang dituduhkan oleh musuh-musuh
Islam yang diamini oleh berbagai media di dunia Islam, tapi Israel lah the
real terrorist. Sementara jika hal itu
dilakukan di negeri yang mayoritas muslim, tentu tidak bisa dibenarkan. Wallahu
a’lam bi’sh showab. Semoga Allah Swt selalu menuntun dan membimbing kita semua
di jalan yang benar.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ،
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ،
وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ
الْعَلِيْمُ.
Umat Islam Satu Tubuh
Ahmad Yani, MA
الْحَمْدُ
ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَسْأَلُهُ
الْمَغْفِرَةَ يَوْمَ الدِّيْنِ.وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَامَحَمَّدًاعَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ.
فَأُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ تَعَالَى. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ
مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ
بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Pada kesempatan yang mulia ini mari sama-sama
kita tingkatkan ketakwaan kita. Takwa adalah bekal utama kehidupan bahagia.
Kehidupan yang bahagia di Dunia maupun di Akhirat tidak mungkin bisa kita raih
tanpa ketakwaan. Karena itu Allah SWT. memerintah kita untuk senantiasa
berbekal dengannya.
وَتَزَوَّدُوا
فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ
Artinya: Berbekallah kalian, sebaik-baik bekal
adalah takwa (kepada Allah SWT.), dan takutlah kalian kepada-Ku wahai
orang-orang yang berfikir. (Al-Baqarah: 197).
Jamaah Jumat yang berbahagia.
Perumpamaan Umat Islam sebagaimana digambarkan
Rasulullah Saw. bagaikan satu tubuh. Hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Nu’man
bin Basyir berbunyi:
عَنْ
النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ
وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ
سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).
Artinya: “Perumpamaan orang-orang
mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan
merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR.
Muslim).
Bila seorang atau sekelompok mukmin
menderita kesulitan, maka mukmin yang lain juga seharusnya merasakan itu.
Itulah makna ukhuwah sesungguhnya. Islam mendorong Umatnya untuk menerjemahkan
ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari. Agar mereka dapat merasakan apa yang
diderita saudaranya se-agama, untuk selanjutnya memberikan bantuan apapun
bentuknya agar meringankan beban dan penderitaan saudaranya itu.
Betapa banyak Kaum Muslimin di penjuru bumi yang
masih belum merasakan ketenangan dan ketentraman hidup. Betapa Negara-negara
mayoritas Muslim sekarang sedang bergejolak. Di Suriah, sejak mencetusnya
revolusi sampai sekarang, sebagaimana dilansir syria-news.com sudah sekitar
6000 orang wafat dalam upaya memperjuangkan kebebasan dan kemuliaan rakyat. Di
Yaman, masih menanti-nanti keberhasilan revolusi rakyat di sana. Tunis, Libya
dan Mesir meskipun sudah melewati masa-masa ketegangan dengan berpeluanganya
terbentuk pemerintahan baru, namun tantangan yang cukup besar bagi
Pemerintah selanjutnya, Mampukan mereka membawa rakyat kepada kondisi yang
lebih baik? Karena banyak sekali sederet kendala dan tantangan yang harus
dipecahkan pada masa-masa peralihan ini. “Apa setelah revolusi?” menjadi
pertanyaan besar bagi pemerintahan selanjutnya.
Begitu pula di nesgeri minoritas Muslim. Tidak
sedikit Negara yang belum memberikan kebebasan menjalankan agama bagi Muslim
yang hidup di sana. Di Prancis, Inggris dan sebagainya. Satu sampel misalnya di
Negara Taiwan, bagaimana Muslim di sana belum memiliki eksistensi yang cukup
kuat agar mereka dapat menjalankan kewajiban agama secara baik. Menurut
beberapa pengaduan buruh migran Indonesia yang bekerja di sana, Pemerintah
Taiwan belum memberikan kebebasan penuh bagi muslim untuk menjalankan ibadah
agama secara baik. Misalnya dalam menjalankan shalat limawaktu, para pekerja
ketika tiba waktu shalat sementara masih pada jam kerja, mereka dilarang untuk
mengerjakan shalat, dan seterusnya. Belum lagi bagaimana di Negara-negara
minoritas Muslim yang mereka memiliki pandangan negative dan memusuhi Islam,
menganggap Muslim yang komitmen sebagai teroris, Islam mengajarkan anarkisme
dan terorisme, dan seterusnya. Tentunya masih banyak penduduk Negara kita
tercinta Indonesia yang juga sangat membutuhkan pertolongan dan perhatian dari
kita semua.
Jamaah Jumat yang berbahagia.
Islam mendorong Umatnya untuk membantu siapa
yang membutuhkan. Dan pada hakikatnya menolong orang yang membutuhkan juga
berarti bahwa menolong diri sendiri. Ada kaedah dalam bahasa Arab yang
berbunyi: aljazaa’ min jinsil ‘amal, bahwa balasan seperti amal yang dilakukan.
Karena itu dengan kaedah tersebut kita bisa memahami sabda Rasulullah Saw.
dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمـِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ
اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى
مُعْسِرٍ يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ
مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فيِ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ
الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).
Artinya: “Siapa yang menyelesaikan
problem seorang mukmin di Dunia maka Allah SWT. akan menyelesaikan problemnya
di Akhirat, siapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah SWT. akan
memberikan kemudahan kepadanya di Dunia dan Akhirat, siapa yang menutupi aib
saudaranya se-iman maka Allah SWT. akan menutupi aibnya di Dunia dan Akhirat,
dan Allah SWT. senantiasa akan menolong hambanya selama ia menolong
saudaranya”. (HR. Muslim).
Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Umar
ra., Rasulullah Saw. bersabda:
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ،
وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ (مُتَّفَقٌ
عَلَيْهِ).
Artinya: Seorang Muslim adalah
saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh ia menzalimi dan membiarkannya
(dalam bahaya), siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan
memenuhi kebutuhannya. (HR. Bukhari dan Muslim). Siapa yang menolong saudaranya
maka Allah SWT. yang akan langsung memberikan pertolongan kepadanya. Dan
pertolongan dari Allah SWT., itu mencakup di Dunia dan Akhirat.
Jamaah Jumat yang berbahagia.
Ada beberapa amal yang bisa dilakukan untuk
meringankan dan menyelesaikan masalah sesama. Diantaranya dengan doa. Berdoa
untuk saudara-saudara kita yang dilanda musibah dan masalah. Berdoa diantara
bukti perhatian terhadap sesama. Berdoa adalah satu amal ringan namun cukup
memiliki pengaruh. Apalagi doa zahril gaib, yaitu doa dibaca ketika sedang
tidak bersama orang yang kita doakan. Lantara membaca doa zahril gaib, Malaikat
akan mendoakan si pembaca doa. Rasulullah Saw. bersabda dalam hadits yang
diriwayatkan Abu Darda’ ra.:
عَنِ
أَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ
مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ
بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ (رَوَاهُ
مُسْلِمٌ).
Artinya: Doa seorang Muslim untuk
saudaranya dalam keadaan zahril gaib (tidak bersama saudara yang didoakan)
mustajab, (dan) di atas kepalanya (orang yang mendoakan) ada Malaikat yang
diutus, setiap kali orang itu berdoa untuk kebaikan saudaranya, maka Malaikat
itu akan berkata “amin, dan bagimu seperti itu juga”. (HR. Muslim).
Jamaah Jumat yang berbahagia.
Amal lain yang bisa menjadi sarana membantu
saudara kita adalah berinfak. Bagi siapa yang memiliki keluasan harta, bisa
menginfakkan sebagian hartanya untuk kemaslahatan sosial, membantu Muslim yang
tidak mampu.
Pada hakikatnya berinfak tidak mengurangi harta
seorang munfiq (orang yang berinfak), bahkan bisa menambahnya. Justru apa yang
menyebabkan harta bisa berkurang sebenarnya adalah sikap pelit atau menghalangi
diri dari berinfak. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah Saw. yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:مَا
مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ
أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ
أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ).
Artinya: Setiap kali datang pagi
hari yang menerpa para hamba ada dua Malaikat yang turun ke bumi seraya berdoa
“Wahai Tuhanku berikanlah ganti kepada orang yang berinfak dan timpakanlah
kerugian kepada orang yang menghalangi diri dari berinfak”. (HR. Bukhari).
Allah SWT. bahkan memberikan balasan yang tiada
tara bagi munfiq (orang yang berinfak) di jalanNya. Allah SWT berfirman:
مثلُ
الّذِين يُنْفِقُون أمْوالهُمْ فِي سبِيلِ اللّهِ كمثلِ حبّةٍ أنْبتتْ سبْع سنابِل
فِي كُلِّ سُنْبُلةٍ مِئةُ حبّةٍ واللّهُ يُضاعِفُ لِمنْ يشاءُ واللّهُ واسِعٌ
علِيمٌ
Artinya: Perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui. (Al Baqarah: 261).
Jamaah Jumat yang berbahagia.
Tentunya selain doa dan infak, masih banyak
sarana dan amal yang bisa kita lakukan untuk menolong sesama. Sebagai bukti
perhatian terhadap kondisi Kaum Muslimin. Siapa yang memiliki kekuatan harta
bisa dengan hartanya. Siapa yang memiliki kekuatan kepemimpinan dan kekuasaan
bisa dengan kekuatan itu. Siapa yang hanya bisa berdoa, itulah bukti perhatian
terhadap saudara seakidah. Dan setiap amal yang dilakukan untuk menolong sesama
Muslim merupakan salah satu indikasi keimanan seseorang. Rasul Saw. bersabda
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sahabat Anas ra.:
عَنْ
أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ).
Artinya: “Tidak beriman seorang
diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai
dirinya sendiri”. (HR. Bukhari).
Semoga Allah SWT. mencatat kita sebagai
orang-orang yang beriman dengan sejatinya. Memudahkan kita untuk senantiasa
menolong saudara-saudara kita se-aqidah. Semoga Allah SWT. memberikan kemudahan
bagi Kaum Muslimin yang masih teraniaya di berbagai penjuru bumi. Menolong
mereka yang belum bisa merasakan keamanan dalam menjalankan kewajiban-kewajiban
agama. Melindungi mereka dari kerusakan yang digencarkan oleh musuh-musuh
Islam. Âmîn yâ rabbal ‘âlamîn.
بَارَكَ
اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَ نَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا
فِيْهِ مِنَ اْلأَيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ