Bab 1.
Masyarakat
1.Kehidupan Kolektif dan Definisi Masyarakat
Kehidupan kolektif dalam alam binatang.tidak hanya
makhluk manusi saja, melainkan juga
banyak jenis makhluk lain hidup barsama individu-individu sejenisnya dalam
gabungan. Dari ilmu mmikrobiologi misalna kita bahwa banyak jeis proyojoa hidup
bersama makhluk sel sejenis dalam suatu kolektif sebanyak ribuan sel yang
masing masing tetap merupakan individu sendiri-sendiri. Misalny jenis
Hydractinia.
Mengenai azaz pegaulan antara mahluk dalam kehidupan
Alamiahitu, beberapa ahli filsafat seperti H. Spencer pernahmenyatakan bahwa
azas egoisme atau azas “mendahulukan kepentingan diri sendiri diats
kepeentingan yang lain” mutlak perlu bagi jenis-jenis mahluk untuk dapat
berahan dalam alam yan kejam. HAnya sikap egois dapat membuat sejenis mahluk
sedemikian kuatnya,sehingga ia cocok (fit)dengan alam untuk dapat bertahan dan hidup langsung
(survive)
Sebaliknya ada beberapa ahli filsafat lain yang
menunjukan bahwa lawan azas egoisme, yaitu azas altruisme, atau azas “Hidup berbakti
untuk kepentingan yang lain” juga dapat membuat jenis makhluk itu menjadi
sedemikian kuatnya sehingga dapat bertahan dalam proses seleksi alam yang
kejam. Kita dapat mengerti bahwa azas altruisme ini terutama berarti mahluk-mahluk yang hidup kolektif,
justru karena altruiisme yang kuat, maka jenis mahluk kolektif itu mampu
mengembangkan suatu hubungan Bantu membantu, dan kerjasma yang serasi.
Kehidupan kolektif mahluk manusia. Manusia adalah
jenis mahluk hidup yang kolektif, maka pengetahuan mengenai azas-azas hidup dalam
koletif yang sebenarnya, walaupun demikian masih ada suatu perbedaan azasi yang
sangat dasar antara kehidupan kolektip binatang dan kehidupan kolektif manusia
, yaitu bahwa system kolektif dalam
kehidupan binatang bersifat naluri yang
sudah terencana oleh alam dan terkandung
dalam gen jenis binatang yang bersangkutan, sedangkan system pembagin kerja ,
aktivitas kerjasama,serta berkomunikasi dalam kehiduan kolektif manusia, bukan
bersifat naluri, hal ini disebabkan karena lepas dari pengaruh ciri-ciri
ras,baik kaukasoid,mongoloid, negroid atau lainya .
Oleh karena pola-pola tindakan dan tingkah laku
manusia adalah hasil pelajaran, maka kita mudah dapat mengerti bahwa pola-pola
tindakan dapat berubah dengan lebih cepat dari pada perubahan bentuk
organismenya, hanya beberapa tahun yang lalu saja tingkah laku dan hidup
manusia sangat berbeda dengan yang sekarang, hanya tiga puluh atau empat puluh
tahun yang lalu saja orang Indonesia masih banyak tinggal dalam rumah-rumah
besar bagi kelompok kerabatnya yang luas,dan dari musim kemusim menanam padi
diladang atau sawah bagi petani,kini keturunan langsung dari para petani tadi
tinggal dirumah-rumah gedung dalam komplek perumahan , jawatan, atau
perusahaan,
Perubahan-perubahan dalam jangka waktu hidup hanya
beberapa generasi manusia itu tidak sama cepatnya pada suatu kolektif manusia
lainnya di muka bumi, ada yang mengalami perubahan yang lambat yang berlangsung
dalam jangka waktu berpuluh-puluh angkatan selama satu-dua abad, ada pula
kolektif-kolektif yang perubahannya sangat cepat.
2. berbagai wujud kolektif manusia
Manusia dimuka bumi ini berjumlah lebih dari tiga
milyar,dan seluruh mahluk jenisnya homosepies itu menampakan suatu aneka warna
yang disebabakan karena ciri-ciri ras kaukasoid, mongoloid, negroid, serta
beberapa cirri lain yang berbeda-beda.seperti apa yang telah tersebut tadi
,aneka warna ciri ras itu tidak menyebabkan timbulnya warna-warna dalam pola tingkah
laku manusia.orang Indonesia misalnya, yang memiliki ciri-ciri ras mongoloid cina
selatan (orang Indonesia pribumi) tidak begitu berbeda dalam hal adat tingkah
lakunya jika dibandingkan dengan orang Indonesia yang mempunyai ciri-ciri
kaukasid
3. unsur-unsur masyarakat
Adanya bermacam-macam wujud kesatuan kolektip manusia
menyebabkan bahwa kita memerlukan beberapa istilah untuk membedakan berbagai macam kesatuan manusia,ada istilah –istilah
khusus yang merupakan unsur dari masyarakat,yaitu social, golongan social ,
komonitas, kelompok, dan perkumpulan keenam istilah sebutan ini beserta
konsepnya,syarat-syaratnya pengikatnya, serta cirri-ciri lainnya,
Masyarakat,
seperti tersebut diatas, istilah yang paling lazim dipakai untuk menyebut
kesatuan-kesatuan hidup manusia, baik dalam tulisan ilmiah maupun dalam bahasa
inggris dipakai istilah society yang bersal dari kata latin socios, yang
berarti “kawan” istilah masyarakat sendiri berasal dari aakar kata arab syarako
yang berarti “ikut serta,berpartipasi”
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling “bergaul”
atau dengan istilah ilmiah, saling “berinteraksi”, suatu kesatuan manusia dapat
mempunyai prasarana melaluiapa warga negaranya berinteraksi,misalnya: suatu Negara
modern mempunyai suatu jaringan komunikasi berupa jaringan jalan raya,jaringan
jalan kereta api, jaringn perhubungan udara, jaringan telekomunikasi, system
radio dan tv,
Adanya
prasarana untuk berinterksi memang menyebabkan bahwa warga dari suatu kolektip
manusia itu akan saling berinteraksi, sebaliknya, adanya hanya suatu potensi
untuk berinteraksi saja belum berarti bahwa warga dari suatu kesatuan manusia
itu akan benar-benar berinteraksi, misslnya saja suku bali mempunyai potensi
untuk berinteraksi yaitu bahasa bali, namun adanya potensi itu saja tidak akan
menyebabkan bahwa semua orang bali tanpa alasan mengembangkan
aktivitas-aktivitas yng menyebabkan suatu interaksi secara intensif diantara
semua orang bali tadi,
Setelah uraian diatas sekarang tiba waktunya untuk
merumuskan suatu definisi tentang konsef masyarakat untuk keperluan analisa
antropologi:masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut
suatu system adapt istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat
oleh suatu rasa identitas
Definisi itu menyerupai suatu definisi yang diajukan
oleh J.L. Gillin dan J.P Gillin dalam bukunya Cultural sociology (1945 :139)
yang merumuskan bahwa masyarakat “kesatuan hidup,unsure adat istiadat,
kontuinitas”
Meskipun kita memang sering dapat berbicara tentang
konsep masyarakat dalam arti luas seperti misalnya konsep masyarakat Negara
Indonesia, tetapi kenyataanya, dalam fikiran kita terbayang seluruh ke-130 juta
manusia Indonesia itu biasanya yang terbayang dalam diri kita dendiri, atau
manusia Indonesia itu sekitar diri kita sendiri, atau suatu lokasi tertentu,
atau dalam ikatan suatu kelompok tertenntu,
Kesatuan wilayah, kesatuan adat istiadat, rasa
identitas komunitas, dan rasa loyalitas terhadap komunitas, dan pangkal dari
perasaan seperti patroitisme, nasionalisme, dan sebagainya, yang biasanya
bersangkutan dengan Negara, meru pakan wujud dari suatu komunitas yang paling
besar,seperti kota, desa, cocok dengan definisi kita mengenai komunitas:
sebagai suatu kesatuan hidup manusia, yang menempati suatu wilayah yang nyata,
dan yang berinteraksi menurut suatu system adapt istiadat, serta yang terikat
oleh suatu rasa identitas komunitas,
Katagori social, masyarakat sebagai suatu kolektif
manusia yang sanggat umum sifatnya, mengandung kesatuan-kesatuan yang lebih
khusus sifat nya, tetapi yang belum tentu mempunyai syarat-syarat pengikat yang
sama dengan suatu masyarakat, kesatuan social sehinngga serupa dengan
“kerumunan” atau crowd yang tidak mempunyai sifat-sifat masa yarakat,katagori
social adalah kesatuan manusia yang terwujud karena adanya suatu ciri atau
suatu kompleks cirri-ciri obyektif yang dapat dikenakan kepada manusi-manusia
itu.
Golongan social berbeda dengan konsep katagori social
terurai di atas, ada konsef lain, yaitu golongan social, konsef ini dalam
buku-buku pelajaran ilmu antropologi atau sosiologi dalam bahasa asing jarang
dipisahkan darim katagori konsef social tadi, dan kedua-duanya biasanya memang
disebut dangan satu istilah, yaitu social katagori, dan memang sering juga
dianggap sebagai satu konsef itu dengan dua istilah yang berbeda, karena
katagori social dan golongan social yang mempunyai unsur-unsur perbedaan yang
jelas.

No comments:
Post a Comment